Mengidentifikasi Korban Melalui Tengkorak Oleh; Myrtati D. Artaria*

Togel Web SAAT ini para ahli sibuk mengidentifikasi korban kecelakaan pesawat AirAsia. Identifikasi forensik dilakukan untuk menentukan identitas seseorang. Identitas personal harus ditentukan dengan tepat. Sebab, kalau tidak, akan berakibat hal-hal yang tidak mengenakkan. Salah satunya, tentu saja keluarga tidak akan mau menerima jika yang diserahkan kepada mereka ternyata bukanlah anggota keluarga yang dicari. Korban yang terendam air laut mengalami proses yang berbeda dengan korban yang terendam dalam air tawar. Umumnya, korban yang terendam air tawar, setelah mengapung, lalu setelah tiga hari, akan tenggelam kembali karena tubuhnya telah rusak. Pada korban di air laut, setelah lima hari, baru terjadi proses tersebut. Kecelakaan pesawat AirAsia terjadi pada 28 Desember 2014 dan saat ini telah jauh melampaui proses tersebut. Umumnya, saat ini jaringan lunak korban yang terendam air laut telah rusak, termasuk sidik jarinya yang menjadi cara paling mudah untuk mengidentifikasi korban. Lalu, apakah itu menjadi kendala untuk identifikasi mereka? Apa yang bisa dilakukan? Tentu saja analisis DNA. Tapi, tunggu dulu. Sebab, analisis DNA adalah analisis yang paling mahal dan membutuhkan waktu lebih lama. Beberapa analisis lain yang bisa dilakukan, antara lain, pertama, pengenalan dokumen. Jika beruntung, individu yang ditemukan mempunyai dokumen (KTP, SIM, atau paspor) di dalam kantong bajunya. Bagaimana jika ternyata tidak didapati dokumen apa pun? Berikutnya dapat diupayakan ’’metode visual’’. Yakni, identifikasi dengan menunjukkan individu untuk diamati keluarga. Itu efektif dilakukan jika korban yang meninggal cepat ditemukan. Jika sudah lama berlalu, apalagi dalam kondisi terendam dalam air, apa yang dapat dilakukan? Berikutnya dapat diupayakan pemeriksaan benda-benda kepemilikan korban yang bisa dikenali dengan mudah oleh keluarga. Dapat pula dilakukan ’’identifikasi medis’’. Itu harus dilakukan ahlinya karena membutuhkan keahlian tertentu. Misalnya, mengenali bekas luka, tato/bekas tato, bekas patah tulang, cacat bawaan, dan sebagainya. Dapat pula dideskripsikan, antara lain, bentuk hidung, mata, dan rambut atau yang disebut ’’somatoskopi’’ yang didasarkan pada patokan standar dalam buku teks antropologi ragawi. 1 2 next > 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN