Capello dan Opera Sabun Sepak Bola Inggris

, London – Stasiun televisi menyebutnya sebagai opera sabun: kisah yang bermula dari sebuah umpatan, tapi berakhir dengan pertaruhan gengsi jabatan. Pemeran utamanya adalah Fabio Capello, David Bernstein, dan John Terry. Pemeran pendukungnya beberapa pemain sepak bola Inggris, mantan pemain, dan seorang tokoh yang sangat penting: Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Fabio Capello, semua orang tahu, dia pelatih tim nasional Inggris yang kemudian mengundurkan diri. Bernstein adalah Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), dan John Terry, pemain Chelsea yang dipercaya Capello menjadi kapten tim Inggris yang populer disebut The Three Lions . Dari cerita tentang Terry itulah opera ini dibuka. Terry mengumpat pemain Queen Park Rangers, Anton Ferdinand, dalam pertandingan antara Chelsea vs Rangers pada Oktober tahun lalu. Dalam potongan video tak bersuara yang berdurasi hanya 25 detik, dengan membaca gerak bibir, Terry ketahuan mengucapkan kalimat pelecehan ras kepada Ferdinand: “Fucking black cunt! ” Ucapan ini seketika mengguncang sepak bola Inggris, apalagi Luis Suarez, penyerang Liverpool, melakukan hal yang sama pada bek Manchester United, Patrice Evra. Suarez menyebut “negro” sebanyak tujuh kali kepada Evra. Jika Suarez dihukum tak boleh main beberapa kali, Terry jauh lebih berat. Untuk pertama kali dalam sejarah Inggris, seorang pemain sepak bola diajukan ke pengadilan umum atas tindakannya saat pertandingan. Terry harus menjalani persidangan pada Juli mendatang. Cerita hukuman bagi pemain yang berulah semestinya berakhir sampai di sini. Tapi sepak bola Inggris rupanya tak pernah mudah memaafkan tindakan pelecehan ras. Di lapangan, para penonton akan senantiasa menyoraki para “rasialis di lapangan hijau” itu. Di meja Asosiasi Sepak Bola Inggris ceritanya lain lagi. Mereka memberi hukuman tambahan: mencopot ban kapten tim nasional dari tangan Terry. Di sinilah nama Capello menyeruak dalam episode “Terry dan tuduhan ras” itu. Pelatih Inggris yang dibayar sekitar Rp 80 miliar per tahun ini menolak keputusan asosiasi secara terbuka dalam wawancara kepada stasiun televisi Italia, Rai 1 , pada akhir pekan lalu. Ia mengatakan mengetahui pencopotan itu hanya lewat telepon dari Bernstein. “Ya, lalu saya katakan saja kepada dia bahwa seseorang tidak bisa dihukum sampai ada keputusan resmi,” kata pelatih berusia 65 tahun asal Italia ini. Capello jengkel karena keputusan itu diambil tanpa berkonsultasi terlebih dulu dengannya. Ia merasa penentuan posisi kapten merupakan kewenangannya. Keputusan itu juga ia nilai terlalu dini, jauh sebelum persidangan Terry digelar pada Juli nanti. “Saya berpendapat seharusnya Terry tetap sebagai kapten,” katanya. Protes terbuka pelatih yang telah empat tahun menangani Three Lions itu giliran menyengat Bernstein. Pada Rabu lalu, asosiasi pun memanggil Capello. Selama lebih dari satu jam keduanya beradu mulut di kantor sekretariat FA di Stadion Wembley, London. Keluar dari Wembley, Don Fabio, begitu para pemain Inggris menjulukinya, sudah menetapkan hati: mundur dari jabatannya. “Saya tak akan berkata apa pun setelah ini. Saya hanya mengucapkan terima kasih kepada para pemain dan asosiasi yang telah memberi kepercayaan selama empat tahun,” katanya. Beberapa mantan pemain nasional Inggris mengecam sikap keras mantan pelatih AC Milan dan Real Madrid itu. Ian Wright, misalnya, menyebut Capello tak tahu budaya dan politik Inggris. Ia mengatakan jika Inggris memenangi Piala Eropa Juni nanti dan ternyata Terry diputus bersalah oleh pengadilan pada Juli, ”Betapa malunya Inggris memiliki kapten nasional yang rasis.” Perdana Menteri Inggris David Cameron pun turut terjun ke gelanggang. Dia menyalahkan sikap Capello yang terkesan membela Terry dalam kasus yang supersensitif ini. “Seseorang tak bisa menjadi kapten timnas dengan tanda tanya besar yang harus diklarifikasi seperti pada kasus ini.” Para pemain nasional pun ramai-ramai berkomentar. Dari Wayne Rooney yang menyatakan kesedihannya hingga Rio Ferdinand yang menyiratkan kegembiraan. “Kami butuh pelatih Inggris sekarang,” tulis Rio Ferdinand, kakak Anton Ferdinand, dalam pesan Twitter-nya. Memang, nama Stuart Pearce, pelatih tim usia 21, kemudian ditunjuk sebagai pelatih sementara. Pelatih Tottenham Hotspurs Harry Redknapp digadang-gadang akan menggantikan Capello secara tetap, meski ia menolak dengan menyatakan akan tetap fokus pada Spurs. Tapi empat bulan waktu yang tersisa menuju Piala Eropa di Polandia dan Ukraina nanti dinilai tak cukup untuk mempersiapkan sebuah tim nasional yang tangguh. Apalagi Inggris akan menjalani pertandingan persahabatan dengan Belanda akhir Februari ini. Dengan kendala ini, para pemain dinilai bisa berlindung di balik pengunduran diri Capello dan waktu yang tak cukup itu. ”Ini bukan kesalahan kami. Dengan mundurnya Capello apa yang bisa kalian harapkan dari kami?” begitu pemain bisa berdalih. Mereka bisa pula mengungkapkan sederet prestasi Capello selama menangani juara dunia 1966 ini. Kendati tersisih di babak kedua pada Piala Dunia 2010 lalu, statistik berbicara bahwa Capello masih jadi pelatih terbaik Inggris. Inggris bertanding 42 kali selama Capello melatih dengan rekor 28 kemenangan, delapan seri dan enam kekalahan. Rekor kemenangan (66,7 persen) ini masih lebih baik dari pelatih Inggris saat memenangi Piala Dunia, Sir Alf Ramsey, yang hanya mencapai 61,1 persen kemenangan. Nah, dengan prestasi, pujian, dan sekaligus kecaman terhadap Capello itu, sepak bola Inggris bakal menghadapi dilema yang luar biasa pelik setelah Don Fabio mundur. Calon pelatih pengganti seperti Redknapp, Alan Pardew, dan Arsene Wenger sudah menolak. Pearce pun harus siap menghadapi badai kecaman baru. Di tengah publik sepak bola Inggris yang ”bawel” dan media yang ”supercerewet”, bisa-bisa nama Terry kembali mencuat jika The Three Lions keok di Polandia nanti. Ia kembali bisa dituding sebagai pembuat kusut sepak bola Inggris. “Saya tak mau jika akhirnya Chelsea yang disalahkan,” kata Andre Villas-Boas, pelatih Chelsea. Benar-benar, “Akhir yang pahit,” tulis Daily Mail di halaman mukanya, mengomentari fenomena mundurnya Don Fabio itu. ”Sebuah opera sabun yang menakjubkan,” tulis harian Italia Corriere della Sera . YOS RIZAL | BUDI RIZA | AP | | .COM |

Sumber: Tempo.co