Virus Flu Burung untuk Menggoyang Ketahanan Pangan

JAKARTA (Pos Kota) – Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis (Komnas PZ) menduga penyebaran virus flu burung jenis baru (H5N1 clade 2.3.2) yang mematikan 242 ribu unggas jenis itik di Indonesia merupakan ulah manusia. Artinya, Indonesia diserang bioteroris untuk menggoyang ketahanan pangan. Sekretaris Komnas Pengendalian Zoonosis Emil Agustiono (kedua dari kiri) gelar temu pers soal flu burung dalam acara ‘Deputy Meet The Press’ di Kemenko Kesra, Jakarta, Rabu (9/1). (aby) “Indonesia merupakan negara nomor tujuh terbesar di dunia sebagai penghasil unggas. Untuk menggoyang ketahanan pangan kita, ada dugaan Indonesia diserang bioteroris,” sebut Sekretaris Komnas Pengendalian Zoonosis Emil Agustiono dalam Deputy Meet The Press di Kemenko Kesra, Jakarta, Rabu. Emil mengatakan, cepatnya penyebaran virus flu burung disebabkan lemahnya pengawasan perdagangan unggas antarwilayah. “Kalau di dunia, avian influenza (AI) varian clade 2.3.2 sejak tahun 2010 sudah diketemukan. Munculnya, di China, Vietnam dan Bangladesh. Cuma yang menimbulkan korban jiwa baru di China dan Vietnam,” kata Emil yang juga Deputi III Bidang Koordinasi Kesehatan, Kependudukan dan KB Kemenko Kesra. Di Indonesia varian ini sudah menyebar ke 69 kabupaten/kota pada 11 provinsi dari Oktober hingga 8 Januari 2013, mematikan 242.368 itik. Penularannya bisa dari ingus dan kotoran yang terbawa oleh media lain seperti terinjak sandal atau sepatu. Di negara lain clade 2.3.2 tidak sehebat di Indonesia penyebarannya. Komnas Pengendalian Zoonosis juga masih menyelidiki mengapa clade 2.3.2 pertamakali ditemukan di Brebes. “Kalau memang ini kasus imported dari negara manapun, harusnya ke pelabuhan-pelabuhan atau kota yang memiliki pelabuhan besar. Tapi ini kok Brebes,” tuturnya. Menurut Emil, semula pihaknya heran kenapa virus flu burung bisa menjangkiti bebek. Padahal bebek atau itik biasanya kebal terhadap flu burung. Ternyata virusnya sudah memiliki varian baru clade 2.3.2. “Kalau H5N1 clade 2.1.2 sudah ada hasilnya, dengan angka fatalitas sampai 82 persen. Cuma anehnya, (virus H5N1 clade 2.3.2) ini menjangkiti bebek. Bebek biasanya resisten terhadap H5N1 clade 2.1.2, tapi kenapa kanapa jadi penderita dalam varian yang baru ini. Itu masih jadi pertanyaan besar untuk kita. Masih perlu diteliti lebih lanjut karena bebek biasanya jadi penyebar virus, bukan penderita yang terpapar,” katanya. ( aby/d ) Teks Gbr:

Sumber: PoskotaNews